Read Syahid Samurai by Afifah Afra Online

syahid-samurai

Johana Alexander Riijkaard mengira Mahmud Ali Syah sang suami telah tewas.Tetapi begitukah sebuah takdir harus dilalui? Jika kemudian muncul Akiro Fujiwara yang mampu mengoyak keteguhan jiwa sufi yang dipeluknya, akankah ia menerima Mahmud meskipun disisinya telah bersannding seseorang yang syah secara syariat?Indahnya pengorbanan, berlikunya proses hidayah dan pemahaman tJohana Alexander Riijkaard mengira Mahmud Ali Syah sang suami telah tewas.Tetapi begitukah sebuah takdir harus dilalui? Jika kemudian muncul Akiro Fujiwara yang mampu mengoyak keteguhan jiwa sufi yang dipeluknya, akankah ia menerima Mahmud meskipun disisinya telah bersannding seseorang yang syah secara syariat?Indahnya pengorbanan, berlikunya proses hidayah dan pemahaman tentang kehidupan, diantara terjangan perang, peluru, heroisme penaklukan Jepang, mengantarkan haru biru berseling ketegaran seorang Johana.Maka, akankah Akiro bertemu Sang kekasih abadi, yang beriringan dengan nuraninya? Bisa pulakah ia memenagkan hati Johana, wanita yang membuat ia menanggalkan prinsip-prinsipnya selaku samurai sejati?Heroisme, aroma sejarah, pemahaman sufistik, dan pesona kehidupan cinta diramu dengan apik oleh Afifah Afra Amatullah. Inilah persembahan perjuangannya setelah sukses dengan “Bulan Mati di Javasche Orange”....

Title : Syahid Samurai
Author :
Rating :
ISBN : 9799183936
Format Type : Paperback
Number of Pages : 198 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Syahid Samurai Reviews

  • Femmy
    2019-03-24 22:40

    Membaca "Syahid Samurai" (SS) ... ibarat bertemu dengan teman lama. Menyenangkan rasanya mengikuti kembali jalan kehidupan Jo/Khadijah dan Mahmud Ali Syah. Cuma, memang, menurut saya, SS tidak seseru "Bulan Mati di Javasche Orange" (BMdJO). Plot SS jauh lebih sederhana, ngga njlimet seperti BMdJO. Jumlah tokohnya juga lebih sedikit. Anyway, berikut ini beberapa hal yang terlintas sewaktu membaca SS.AKIROPertama, setahu saya, yang namanya samurai itu adanya di zaman feodal Jepang, dan dibubarkan setelah restorasi Meiji.Nilai-nilai Bushido-nya mungkin masih dianut sampai sekarang, tapi kayaknya udah ga ada orang yang berlatih di kuil untuk menjadi samurai.Kedua, salah satu nilai yang dijunjung tinggi dalam Bushido adalah--di samping kehormatan--kesetiaan, terutama kesetiaan kepada negara. Saya agak sulit mempercayai bahwa Akiro bisa dengan begitu "mudah" bertukar kesetiaan. Tentu saja, berkhianat demi cinta sering terjadi. Tapi, bagi saya, ini tidak konsisten dengan karakter Akiro, yang menganggap dirinya seorang samurai, yang mestinya tak cuma mempersoalkan kehormatan, tapi juga kesetiaan. Di sini, Akiro mengabaikan nilai kesetiaan pada negara, demi cinta, demi "kehormatan". Selain itu, Akiro mungkin jadi Muslim, tapi tetap dia seorang Jepang. Kemuslimannya tidak mengubah dia jadi orang Indonesia. Saya sulit menerima bahwa dia bisa begitu saja membunuhi teman-teman sebangsanya demi perjuangan Indonesia. Apalagi kalau memang ia seorang samurai, mestinya dia memiliki rasa kesetiaan/nasionalisme yang kuat?Satu hal lain yang penting adalah utang budinya karena Khadijah pernah menyelamatkan nyawanya. Unsur ini hampir tidak dimanfaatkan. Yang difokuskan di sini malah rasa cinta Akiro. Sayang sekali. Menurut saya, unsur "utang budi" iniakan lebih masuk akal jika digunakan sebagai motivasi Akiro membebaskan Khadijah. "Cinta" sebagai motivasi kayaknya udah sering dalam seri ini. Di BMdJO, ada cinta Mahmud pada Jo (yang hanya sekadar cinta pada kecantikan Jo), ada juga obsesi si orang pribumi (siapa ya namanya, lupa). Tokh masih banyak emosi manusia yang bisa digali, ga cuma cinta. Rasa terima kasih dan utang budi, rasa kagum, rasa bersalah juga bisa.JOJo di SS berbeda sekali dengan Jo yang di BMdJO. Mungkin karena keyakinan barunya itu ya. Di BMdJO, Jo adalah salah satu tokoh yang saya sukai. Di SS, saya malah ga suka sama dia. Tokohnya pasiiif sekali. Dia ga pernah bertindak apa pun, ga pernah mencoba membebaskan diri atau apa pun. Atau, kalaupun tak ada tindakan fisik yang ia lakukan, setidaknya saya mengharapkan ada semacam perjalanan batin. Perjuangan dia menerapkan keyakinan barunya, misalnya, terutama di situasi yang tidak menyenangkan seperti yang dia alami. Karena tak ada ini, bagian cerita tentang Jo jadinya terasa hambar.Beberapa kali juga Jo disebut tegar, tapi bagi saya, ketegaran ini kok tidak terlalu tergambarkan ya. Saya ingin"ditunjukkan" (show) bagaimana Jo bisa mencapai ketegaran itu, tidak hanya "diberi tahu" (tell) bahwa dia tegar.HAL-HAL LAINHarakiri. Setahu saya, harakiri dilakukan dengan merobek perut atau menggorok leher, bukan menusuk dada (h. 190) Selain itu, dalam harakiri ada ritual khusus yang dijalani, dibantu oleh seorang samurai lain. Tapi ga tau juga yach, kalo di tengah-tengah perang gitu.Musashi. Dia bukan tokoh rekaan Eiji Yoshikawa (h. 72), melainkan orang betulan (1584-1645), malah menulis buku juga, "Gorin No Sho/The Book of Five Rings" (1645).NOTABLE MOMENTS- Paragraf pertama h. 42. Membuat hati saya tersentuh, mengenang lagi kejadian di BMdJO.- Saya juga suka adegan-adegan yang manis antara Mahmud dan Hanifah (h.54 dll.)PENUTUPSecara keseluruhan, dalam buku SS ini, ada bagian-bagian yang saya nikmati, meskipun ada juga yang bikin berkerut kening. Mudah-mudahan buku lanjutannya bisa lebih bagus--sebagus BMdJO atau lebih bagus lagi.

  • Eyiazzahra Fathurahman
    2019-04-05 23:28

    Judul Buku : Syahid SamuraiPenulis : Afifah Afra AmatullahPenerbit : PT Era Adicitra IntermediaTahun Terbit : 2002Tebal Buku : 192 halamanUkuran Buku : 21 cmISBN : 979-9183-93-6Harga : Rp26.000,-Menjemput Cinta di Medan Syahid Johana Rijkaard atau yang kini bernama Khadijah setelah memutuskan untuk ber-Islam dalam nuansa kental sufistik mengira sang mantan suami, Mahmud Ali Syah telah tewas dalam penyerangan tentara KNIL yang dipimpin ayah Johana. Johana atau Khadijah yang sebelumnya hidup dalam keadaan yang begitu memprihatinkan bersama sang anak di tanah Persia akhirnya mau mengikuti ajakan sang paman untuk tinggal di puri pamannya di Balikpapan. Akiro Fujiwara, sang jenderal Jepang yang lebih dikenal sebagai tukang jagal tanpa ampun untuk pertama kalinya bertemu Khadijah dalam keadaan tak sadarkan diri. Jenderal yang begitu setia dengan sumpah samurai dan amat berbakti kepada ammaterasu omikami itu merupakan prajurit andalan pasukan negeri sakura tersebut. Namun siapa sangka, sang jenderal yang begitu keras dan kejam akhirnya jatuh hati pada sosok Khadijah yang anggun nan sederhana namun begitu tegas.Mahmud Ali Syah, nelangsa mencari sang Khadijah hingga nasib akhirnya mempertemukan dia dengan seorang bidadari pengganti. Mendirikan kembali pesantren Al-Ikhwah yang pernah porak-poranda. Rangkaian peristiwa demi peristiwa menegangkan dilalui Khadijah bahkan sampai menjadi tawanan wanita dan menjalani romusha. Akiro, cinta dan kekagumannya kepada sosok sang dewi menyeretnya pada aksi pengkhianatan dan ketertarikan kepada keyakinan baru. Johana, Akiro, Mahmud akhirnya dipertemukan dalam sebuah pertemuan yang memerah rindu dan juga luka di antara ketegangan menghadapi pasukan Jepang dan fitnah dari Suparman beserta antek-anteknya. Akankah Khadijah memilih kembali kepada Mahmud di saat sang mantan suami telah memiliki belahan jiwa yang lain sedangkan di sisi lain ada sosok Akiro yang amat dalam mencintainya? Akankah Akiro menemukan cinta sejati dalam pada sebuah keyakinan yang menggetarkannya? Bagaimana Mahmud menghadapi persoalan hati dan juga kekerasan penjajah? Simak selengkapnya dalam novel perjuangan ini.***Syahid Samurai! Novel ini merupakan novel kedua dari trilogi Bulan Mati di Javasche Oranje (BMdJO). Mengisahkan tentang perjuangan para tokohnya dalam menghadapi pergelutan batin menghadapi persoalan pribadi dan juga perjuangan fisik menghadapi penjajah juga antek komunis. Nuansa keislaman yang begitu kental, aksi heroik yang memacu adrenalin, juga konflik batin serta asmara yang mengharu biru. Begitu komplit diracik dalam untaian kata yang mengalirkan berbagai kecamuk rasa ketika membacanya. Sebagai novel yang dikategorikan sebagai novel perjuangan ini, setting tahun 1940-an hingga awal kemerdekaan yang digunakan beserta keseluruhan rangkain kisah yang dihadirkan, novel ini mampu menggetarkan idealisme dan getar-getar heroik di jiwa saya sebagai pembaca. Selain itu, yang paling saya sukai adalah nuansa keislaman yang begitu kental yang menunjukkan bahwa kisah yang dituturkan adalah perpanjangan kalam dari sang penulis dalam berdakwah. Sebuah cara yang efektif untuk menyampaikan pemikiran kepada lebih banyak orang tanpa pembaca merasa digurui. Nilai-nilai keislaman yang disampaikan penulis melalui rangkaian cerita juga sangat relevan dengan kondisi umat hingga saat ini dalam menanggapi beberapa hal yang sering menjadi bahan perdebatan masyarakat. Namun, sebagai novel perjuangan dengan nilai keislaman yang kental mungkin sasaran baca dari novel ini kurang merangkul kalangan umum. Adapun beberapa hikmah atau nilai yang terkandung dalam kisah novel ini menurut saya sebagai berikut :• Mengikuti atau mempelajari ajaran agama hendaknya tidak bertaklid buta. Persoalan ini saya temukan dalam persoalan yang dihadapi Johana atau Khadijah ketika mengikuti ajaran kesufian yang menganggap bahwa Rabb dan manusia dapat bersatu serta tidak membutuhkan kehidupan sosial dengan sesama manusia. • Hati yang bersih akan mudah menerima nasehat dan hidayah melalui proses pemikiran yang jernih.• Diperlukan sikap yang tegas dan prinsip yang teguh dalam menjalani kehidupan.• Kerelaan untuk lebih menerima keadaan karena ketaatan kepada ajaran Islam, perlunya memenangkan kepatutan dibandingkan kecemburuan dan hawa nafsu.• Dalam sebuah perjuangan bersama dalam melawan kemungkaran, setiap anggota mesti patuh pada perintah pimpinan dan hasil musyawarah bersama.• Tak ada rasa takut dalam memperjuangkan kebenaran dan menjemput syahid.Itulah beberapa hikmah yang dapat saya ringkaskan setelah membaca novel ini. masih banyak lagi hikmah dan pembelajaran lain yang dapat kita petik dari kisah yang menggetarkan ini. Berdasarkan nilai dan hikmah yang dikandungnya, maka buku ini sangat layak untuk dibaca oleh siapapun. Untuk mendapatkan kisah utuhnya, pembaca bisa membaca ketiga keseluruhan triloginya (Bulan Mati di Javasche Oranje, syahid Samurai, Peluru di Matamu).Selamat membaca ^_^

  • Esatri Rosetaati
    2019-04-19 16:37

    nyari buku ini kok susah banget ya::barubaru bangeet nemu buku ini d perpus SMP tempat ibu ngajar :D